Pages Navigation Menu

Hak Asasi Manusia, Budaya dan Lingkungan

Cerita dari Maluku; Episode 6 – Tentang Negeri Nusa Ina

Cerita dari Maluku; Episode 6 – Tentang Negeri Nusa Ina

http://almascatie.files.wordpress.com/2007/01/baguala3.jpg23 Feb. Pagi ini aku bangun dengan kesehatan kurang prima. Ada sesuatu yang tak kupahami dan itu membuat tidurku senantiasa terjaga. Lolongan anjing yang kudengar semalam, menciptakan perasaan aneh.

Namun, aku tak punya waktu untuk mengikuti perasaan aneh ini. Hari ini, kami mengadakan pertemuan dengan kaum muda di balai desa Haruru. Kami berjalan kaki ke sana bertemu dengan babi, sapi dan anak-anak bertelanjang dada sedang bermain bola. Anak-anak itu berbau tak sedap. Ingus dan kotoran memenuhi wajah mereka. Rambut mereka merah dan berminyak. Itulah keadaan kawan-kawanmu di Negeri Rempah, sungguh berbeda dengan anak-anak gedongan di Jakarta yang tiap hari makan Mc Donnald ! 30 tahun lalu, keadaan anak-anak seperti itu merupakan pemandangan di kampungku, dusun Sekarputih, Mojokerto (Jawa Timur). Aku masih kecil seperti mereka, dan jatuh iba terhadap teman-teman di kampungku itu. Aku suka bermain dengan mereka tetapi mbah putrimu selalu melarang. Kalau aku habis bermain dengan teman-temanku yang beringus itu, mbah putrimu lalu memandikanku: menyabun dan membilas berkali-kali. Tapi kali ini aku tak punya waktu untuk berdekatan dengan anak-anak karena, sekali lagi, mesti membantu fasilitator dari sini mempersiapkan segala sesuatu untuk pertemuan.

Kaum muda itu berusia sekitar 19-20-an tahun, sebagian adalah pengungsi akibat kerusuhan kemarin. Sebagian adalah transmigran paksa dari kepulauan TNS (P. Teun, P. Nila dan P. Serua) yang terletak di Tenggara Barat Maluku (dekat kepulauan Tanimbar). Menilik asal usul orang tuanya, mereka adalah pendatang tetapi mereka lahir di tanah ini. Ada yang orang tuanya dari Bugis, Buton, TNS, Saparua. Mereka itu kini hidup dalam keadaan mengungsi di barak pengungsian Waipo, sedangkan kaum muda dari TNS tinggal di Waipia Sebelumnya mereka tinggal di kawasan kota Masohi, seperti di desa Sugiharto dan Apui (Islam), Letwaru dan Lesane (Kristen).

Kaum muda itu berjumlah 15 orang, komposisi perempuan dan laki-laki seimbang, termasuk agamanya. Beberapa kaum muda perempuan kegiatan sehari-harinya adalah membantu ibunya berjualan atau melakukan kegiatan kerumahtanggaan. Hampir seluruhnya telah terdidik dalam kegiatan kerelawanan kemanusiaan dalam usaha mengatasi persoalan pengungsian. Meski rata-rata lulusan SMA, wawasan dan ketrampilan kaum muda tersebut secara umum masih minim. Tetapi semangatnya untuk bangkit membangun “hidup baru” menyala-nyala. Pertemuan selesai pukul 19.00 waktu setempat dalam gelap gulita. karena listrik mati total.

Masalah padamnya listrik itu cukup meresahkanku. Karena alat praoduksiku tergantung padanya. Menurut mama Tina, sejak konflik tiga tahun lalu, keadaan listrik lebih sering padam. Terkadang dua minggu mati, sehari hidup. Sekarang ini sudah 1 bulan tak menyala. Ada kalanya menyala 2 jam pada pagi hari. Ini berlaku untuk semua negeri di Nusa Ina. Kalau kita putar-putar kota Masohi pada malam hari, oh, nak, seperti desa usai perang. Gelap gulita. Di sejumlah lokasi penuh semak tinggi seakan-akan sengaja dibiarkan untuk menutup puing-puing rumah di baliknya. Padalah Masohi adalah ibukota Maluku Tengah. Bagaimana kehancuran infrastruktur itu tak segera dipulihkan? Aku sedih melihat teman-temanmu, yang membungkuk di depan pelita (mereka buat dari kaleng kecil lalu diberi sumbu), membuka pelajaran sekolahnya. Tetapi, bagaimana anak-anak dapat belajar dalam keadaan penerangan seperti itu? Padahal, kalau kita lewat kompleks Batalyon 731, mulai dari pagar kompleks hingga ke dalam, lampu-lampu berparade begitu terangnya. Keadaan itu menekankan perbedaan dengan rumah-rumah di sekitarnya yang hanya tampak dari nyala samar pelitanya.

Perlahan-lahan aku mulai paham terhadap perasaanku yang aneh. Perasaan ini pernah kujumpai saat berada di Sarajevo tahun 1998, saat di Jakarta paska kerusuhan Mei 1998, saat di Aceh dan tempat-tempat lain di ngeri-negeri Indonesia yang memiliki kisah pembantaian manusia. Merangkaikan tuturan atau kesaksian tentang bagaimana manusia membantai manusia, manusia membumihanguskan kehidupan manusia, manusia menghancurkan peradabannya sendiri, dengan alat-alat seperti senjata api, bom, samurai, dan lainnya, sungguh menganiaya perasaanku, nak! Apalagi, kisah itu terjadi di atas tanah yang menyimpan tembuni (plasenta) kita, yang sama-sama memberi hidup dan di tengah udara yang sama-sama kita hirup.

Kau tahu, nak, tak jauh dari rumah mama Tina, merupakan perbatasan wilayah Kristen-Islam, yang pada saat konflik pada bulan Desember 1999, merupakan gelanggang “pertempuran” antara Laskar Jihad (bukan penduduk muslim) versus orang-orang Haruru yang mempertahankan keamanan komunitas dan desanya. Menurut ceritera, di situ bertebaran tubuh-tubuh manusia menggeletak tanpa nyawa, bahkan sampai ke lorong di depan rumah mama Tina. Tak ada orang yang berani menguburnya., kecuali yang di lorong penduduk. Perbatasan tadi berupa tanah tinggi mirip bukit yang berjarak kira-kira 100 meter dari rumah tinggal kami. Di sebelah perbatasan itu berdiri tembok penjara Masohi. Katanya, pada saat konflik yang lalu, penghuni penjara dapat melarikan diri semua, karena penjaganya juga menyelamatkan diri. Ah, siapa yang berani menghadapi serangan lascar, baik yang berseragam gamis dan sorban maupun yang non (ada saksi yang mengatakan berseragam hijau loreng) dan semuanya menggunakan senjata tajam maupun senjata api ? Siapa pula yang berani menghadapi mortir, dan adakah masyarakat negeri Nusa Ina, baik yang beragama Islam maupun Kristen, yang memiliki mortir, bom dan senapan?

Ah, sudahlah, nak, aku mau lanjutkan ceriteraku tentang Nusa Ina. Aku tertarik dengan ceritera rakyat yang dituturkan mama Betty Patiata. Ia orang asli Oma, sebuah negeri yang terletak di Pulau Haruku, berdekatan dengan negeri Haruku yang kemarin kukunjungi. Konon, menurut riwayat, yang kemarin juga telah kututurkan padamu, pangkal ceritera Maluku Tengah berasal dari rahim perempuan yang disebut Ina (artinya ibu), yakni pulau yang kini buminya kupijak. Dalam pasaweri (doa adat) disebutkan: …..ina pohum ama latahala………artinya ada penguasa yang menciptakan tanah, hewan dan tumbuhan, yang berada di gunung, yang menurut perkiraan tepatnya di Gunung Binaiyya (3018 m dan merupakan gunung tertinggi di Maluku) yang penguasanya adalah perempuan. Gunung Binaiyya terletak di pusat Negeri Nusa Ina dan dipercayai sebagai rahim (induk) asal usul Maluku. Induk itu, tempatnya disebut orang Nunusaku. Jadi, orang Maluku Tengah sampai ke Tenggara percaya bahwa mereka berasal dari satu rahim sang Ina. Pada waktu itu sang Ina hanya tahu gunung dan belum tahu wilayah lain yang disebut laut. Diperkirakan kemudian sang Ina ini melahirkan anak-anak yang pada saat dewasa merantau ke negeri-negeri (orang Maluku menyebut negeri sama dengan desa menurut UU Pemerintahan Desa tahun 1974 dan dari sinilah mulai timbul kerancuan yang fundamental berkaitan dengan tanah adat) di sekitar Maluku. Mereka, antara lain, merantau ke pulau-pulau yang kemarin kusebut kepulauan Lease (Haruku, Saparua dan Nusa Laut). Karena itu, orang Maluku percaya bahwa mereka bersaudara, yang hidup dan tinggal di negeri-negeri adatnya dan memberi identitas anak negerinya dengan marga.

Suatu contoh, ada hubungan kekerabatan (gandong) antara negeri Tamilou di kecamatan Amahai (P. Seram) dengan negeri Sirisori Kristen di Pulau Saparua dan dengan negeri Hutumori di Pulau Ambon. Konon, mereka itu tiga bersaudara yang pada waktu itu sedang berlayar dan mengalami serangan badai. Si sulung, seorang perempuan, terlempar ke Pulau Ambon dan selanjutnya bermukim di negeri Hutumori (beragama Kristen). Si nomor dua, seorang perempuan, terlempar ke Pulau Saparua dan bermukim di tanah negeri Sirisori, yang sekarang disebut Sirisori Kristen (karena ada Sirisori yang muslim. Konon, itu pembagian berdasar kesepakatan). Si bungsu, seorang laki-laki terlempar ke Seram, lalu bermukim di Tamilou (beragama Islam). Dalam tradisi mereka, jika salah seorang saudara mempunyai hajat, pasti dihadiri oleh kedua saudara yang lain. Ketika pecah kerusuhan kemarin, dan membatas demarkasi Kristen-Islam, mau tak mau mengganggu hubungan kekerabatan tersebut. Pada tahun 2001, saat si bungsu Tamilou mempunyai hajat membangun mesjid, dasar bangunan itu selalu runtuh. Karena kedua kakak negerinya yang beragama Kristen tadi tak hadir menyaksikan dan tak mungkin datang dalam situasi hidup disegregasi.Akhirnya, orang-orang Tamilou minta izin aparat tentara agar dapat mengundang an memberi jaminana keamanan terhadap kedua kakak negerinya. Setelah kedua kakak negerinya datang, percaya tak percaya, dasar bangunan itu dapat berdiri.

Maka, “beta seng (tidak) percaya orang Kristen dan Muslim baku bunuh, baku hantam, seperti kemarin (g). Katong (kita) liat itu laskar yang serang-serang. Dorang (dia) pake baju putih panjang, celana putih, tutup kepala …”, ungkap mama Betty. Tiba-tiba matanya menerawang, mendung hadir di wajahnya. Ia masih merasa seperti dalam mimpi dan tak percaya bahwa kehancuran negerinya ini merupakan kenyataan.

Ia pun ceriterakan, orang-orang dari negeri Rohomoni (P. Haruku) jika membangun mesjid juga dihadiri semua saudara negerinya yang beragama Kristen. Pulau Nusa Laut itu bersaudara dengan P Amba laut yang letaknya berdekatan dengan P. Buru. Dulu, kakak adik di Nusa Laut yanag beragama Islam dan Kristen itu sering bertengkar. Lalu keduanya dipisah, sang adik yang bergama Kristen tetap di Nusa Laut dan sang kakak yang beragama Islam ke Amba Laut. Sejak itu keduanya tak pernah bertikai hingga dalam situasi kerusuhan lalu, kedua pulau tersebut paling aman dan tidak terprovokasi.

Dalam ceritera terdahulu, aku telah jelaskan tentang gandong dan pela. Khusus mengenai pela, ada 4 jenis, yang dibedakan karena sejarahnya. Ada pela kawin yang sejarahnya telah kuceriterakan, pela darah dan pela tampa sirih dan pela batu karang. Ketiga pela yang terakhir itu selalu ada hubungan dengan peperangan atau pertikaian. Misalnya, salah satu negeri diserang oleh negeri lain, kemudian negeri yang diserang itu dibantu oleh negeri tetangganya. Persekutuan satu darah itu dilakukan dalam upacara menyatukan darah dalam satu tempat sirih. Bisa juga, dua negeri yang bertikai itu kemudian mengikat dalam perjanjian untuk bakubae (perdamaian) melalui cara persekutuan dalam satu darah. Contoh ini pada pela batu karang. Dan jika ada salah satu pihak yang melanggar, yang bersangkutan akan mengalami bencana atau kutukan.

Di Nusa Ina sebelah Timur terdapat negeri yang dsiebut dengeri Batik Darat. Ceriteranya, negeri ini gaib alias tak dapat dilihat secara kasat mata. Namun, jika kita ingin melihatnya dapat diantar oleh Mamaraja (ibu kepala adat), dari Pulau Panjang yang tak jauh dari Pulau Nusa Ina. Dipercayai, negeri Batik Darat ini bersaudara dengan orang Tanimbar-Kei (orang-orang yang tinggal di satu negeri di Kepulauan Tanimbar yang beragama adapt). Pada setiap bulan Romadlon, orang-orang Batik Darat (beragama Islam) yang gaib itu akan bertandang ke saudaranya di Kei dan Tanimbar sampai hari Idhul Fitri ke 7. Pada hari tersebut, paparaja Tanimbar-Kei mengadakan selamatan berupa tahlilan. Jika tidak, orang Batik Darat akan membuat keributan, dalam berbagai bentuk seperti wabah penyakit, tanaman kering, dan sebagainya. Seorang kawan pernah berada di sana pada saat upacara tahlilan berlangsung. Sungguh aneh, upacara itu dipimpin oleh tabib perempuan yang bukan pemeluk Islam tapi dapat berdoa dalam bahasa Arab Al-Qur’an dengan lafal yang sangat baik dan fasih. Upacara tersebut berlangsung kira-kira 1,5 jam, dihadiri masyarakat negeri Tanimbar-Kei dan, menurut perasaan kawanku, orang-orang yang tak kasat mata (gaib). Bulu kuduk temanku terus menerus berdiri dan darahnya terkesiap mendengar doa-doa yang dilantunkan tabib perempuan tersebut. Setelah upacara selesai, orang-orang tak kasat mata tadi terasa bubar dan negeri pun terasa tenang. Konon, dipercayai setelah diupacarai semacam itu orang-orang Batik Darat kembali ke negerinya. Kawanku menyaksikan peristiwa ini pada tahun 1996 dan hingga sekarang masih berlangsung.

Sekali lagi, nak, legenda dan ceritera rakyat semacam ini menggambarkan bahwa orang Maluku adalah satu saudara yang lahir dari rahim sang Ina. Cukup menarik, karena cerita rakyat Maluku dari penuturan itu dipimpin oleh perempuan. Kalau seluruh ceritera itu dapat dihimpun dan diteliti dalam perspektif sejarah, kita dapat gali, urai dan bentangkan sejarah perrempuan dari khasanah negeri Rempah.

Mengapa negeri-negeri dengan sejuta ceritera itu disebut Maluku? Seorang penutur yang bernama Nus Ukru menceriterakan asal-usulnya sejak sejarah perdagangan rempah-rempah. Konon, ketika pedagang Portugis (dalam novel Arus Balik karya Pramoedya AT disebut orang Peranggi) hendak memperluas dan memonopoli pembelian rempah-rempah di kepulauan Utara (sekarang disebut Maluku Utara), mereka mendekati kulano-kulano (raja-raja adat). Kulano-kulano itu mempunyai perkumpulan yang disebut keraha. Pada saat orang Peranggi itu rapat dengan keraha, orang Eropa itu menganggap kulano-kulano itu bodoh dan dapat dibodohi. Orang-orang Eropa yang merasa pintar itu mengatai para kulano: molukue, yang artinya bodoh. Para kulano yang tak paham artinya menganggap istilah baru itu suatu sebutan tentang tanah mereka. Apakah karena kebodohan pula hingga saat sekarang istilah itu tetap kita pergunakan. Aku bayangkan, nak, orang-orang Peranggi yang datang kemari itu jorok, kasar, tamak, tak beradat (tak berbudaya), dan juga bodoh. Persis yang digambarkan Pram dalam Arus Baliknya. Dalam keadaan demikian, aku sering berpikir, apa yang sejatinya dapat menjadikan mereka sebagai bangsa super dan penjajah?

Anakku, orang Maluku pada dasarnya pandai bertutur. Tetapi, tuturan itu memperlihatkan tanda-tanda terputus pada tingkat generasimu Karena itu, aku ingin mengajak para pekerja social dan kemanusiaan mendokumentasikan tutur adat yang sejatinya bermuatan sejarah jati diri suatu masyarakat. Kini, aku ceriterakan padamu tentang keadaan sosio-demografis Nusa Ina saat ini.

Secara adminsitratif pulau ini diatur menjadi 10 kecamatan, secara urut dari Barat meliputi: Seram Barat, Taniwel, Kairatu, Amahai, Waipia (dipecah dari Amahai untuk transmigran dari Tenggara Barat), Seram Utara, Tehoru, Bula, Werinama, Seram Timur. Kota Masohi yang merupakan pusat pemerintahan Maluku Tengah terletak di kecamatan Amahai. Tak mudah mencari data kependudukan di kantor, contohnya desa Haruru. Kantor desa itu kosong saja, kecuali ada skema pemerintahan yang sudah merupakan blue print dari Pusat. Tetapi aku akan menelisik data sosio-demografi pada perjalananku selanjutnya dengan menyertakan kaum muda yang berada di sini.

Kecamatan Amahai

Aku catat secara khusus kecamatan ini, karena kami berada di sini. Letak kecamatan Amahai, di sebelah Timur berbatasan dengan kecamatan Tehoru, sebelah Barat dengan kecamatan Kairatu, dan sebelah Utara dengan kecamatan Seram Utara. Letaknya di sebelah selatan Pulau Ina dan mengitari Teluk Elpaputih. Kecamatan ini mempunyai 17 desa, yang meliputi: desa Amahai, Haruru (beragama campuran), Makariki, Tamilou (muslim), Sepa, Tanjung, Ruta, Ampera, Sohoko, Sehati (translok dari Saparua), Waraka, Liang, Bandabaru (translok muslim dari Pulau Banda), Musafir (translok muslim dari Bugis), Hatuheno, Nauluteto, Tanahnahu. Mayoritas desa-desa tersebut dihuni orang beragama Kristen.

Tanah kecamatan Amahai di”potong” untuk pemukiman transmigran dari Tenggara Barat, yakni Pulau Teun, Nila dan Serua (disingkat TNS). Pemukiman itu diberi status admistratif kecamatan dan dinamakan Waipia. Sampai saat ini kecamatan Waipia seperti menempel pada Amahai. Maklum mereka pendatang yang bukan pemilik tanah adat.

Kalau kita hendak melakukan hubungan sosial, ekonomi dan lainnya melalui telpon, itu merupakan barang mewah di sini, nak! Maka, bersabarlah jika tak kau dengar suaraku selama berhari-hari. Bayangkanlah, sebuah ibukota kabupaten (masohi) hanya mempunyai 1 kantor Layanan Telkom (Yantel) yang terletak di samping kantor Kabupaten. Sedangkan wartel (warung telekomunikasi) yang dikelola swasta hanya ada 5 buah untuk dua kecamatan Amahai dan Waipia. Surat menyurat dialamatkan ke kantor desa, tetapi, menurut mama Tina, seringkali harus mengambil di kantor kecamatan.

Banyak orang sakit yang memerlukan tindakan operasi, musti berlayar dulu ke kota Ambon. Di sini, sarana kesehatan, berupa rumah sakit hanya ada 2, yang satu kepunyaan pemerintah dan yang lain kepunyaan Katolik. Keduanya terletak di kota Masohi. Tentu, fasilitas medisnya sangat terbatas. Apalagi, jumlah dokternya hanya ada 6 orang, itu pun yang berpraktek hanya separuhnya. Karena, 1 orang dokter merangkap sebagai kepala dinas kesehatan, 1 orang dokter menjadi isteri militer dan tak boleh suaminya berpraktek/tugas, 1 orang dokter khusus untuk rumah sakit pemerintah dan tak boleh praktek umum. Jadi dokter yang praktek, selain di rumah sakit, hanya ada 3 orang. Kebanyakan orang sakit ditangani mantri yang praktek di Puskesmas atau mereka melayani panggilan secara berkeliling. Banyak juga yang ditangani dukun atau orang pandai. Kalau tak salah, setiap desa mempunyai 1 Puskesmas.

Kegiatan jual beli di dua kecamatan itu difasilitasi oleh 6 pasar, yang meliputi 1 pasar Netral (bisa untuk Kristen dan Muslim) Kabaresi, yang terletak di sebelah kompleks Batalyon 731; 1 pasar Muslim, dan 4 lainnya adalah pasar Kristen. Pelayanan transportasi berupa angkutan kota dan colt Isuzu L 300 yang parkir di 2 terminal. Satu (1) terminal berada di dalam kota untuk melayani trayek antar kecamatan, terletak di kelurahan Apui, yang sekarang menjadi terminal Muslim. Jadi kalau kita mau menggunakan jalur muslim, naik mobilnya dari terminal ini. Satu (1) lagi terminal kecil yang terletak di pasar Makariki, yang sekarang menjadi terminalnya orang Kristen. Kalau kita menggunakan rute Kristen, maka harus pergi ke mari terlebih dahulu. Uniknya, jalan aspal di sini sangat mulus, kita-kira 4 meter lebarnya (standar jalan antar kecamatan). Untuk seluruh Seram, dibangun jalan trans-Seram, yang mengelilingi pantai, tetapi terputus sampai di Seram Timur (belum dibangun). Sementara infrastruktur di sini sangat minim, tentu engkau bertanya, mengapa kualitas jalannya mulus? Jawabnya berada di hutan-hutan yang tersebar di seluruh negeri Seram. Hutan-hutan itu telah dikapling oleh para pejabat dari Jakarta, berupa HPH-HPH (Hasil Penguasaan Hutan) yang perlu jalan berkualitas bagus untuk mengangkut kayu-kayunya.

Ceritera kusudahi sampai di sini, nak, besok kulanjutkan lagi. Tidurlah dalam kasih nan damai. Ah, lagi-lagi suara itu….lolong panjang anjing yang beralari ke arah perbatasan. Bulu kudukku merinding!

Ruth Indiah Rahayu

2 Comments

  1. oma….beta rifai…..
    keturunan asli dari kelirey(kelrey)pulau seram timur,kileser
    kalo oma pu data mengenai sejarah gunung bati (batik) tolong kirim ka beta pu email jua oma…..

  2. hi there, can you write me more information about Batik Tribe and how to reach this tribe…..thank awaiting your email……top urgent.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>