Lumpur Lapindo: Kalahnya Negara Oleh Korporasi
30 May 2009 – 14:31 | 2 Comments

Tepat tanggal 29 Mei 2006, tiga tahun yang lalu bencana yang menimpa warga Porong, Jawa Timur  terjadi. Sebuah sumur pengeboran, Banjar Panji-1 milik PT. Lapindo Brantas menyemburkan lumpur yang kemudian merendam wilayah di sekitarnya. Akibatnya, …

Read the full story »
Budaya

manusialah yang membangun kebudayaan dan sebaliknya budayalah yang membentuk manusia hingga akhir zaman

Galeri

fragmen kehidupan dituangkan dalam berbagai media yang menyatukan manusia, budaya dan lingkungan

Glossary

terminologi yang kerap digunakan di gerakan sosial, budaya dan lingkungan beserta penjelasannya

Hak Asasi Manusia

pada dasarnya, manusia memiliki hak yang sama saat terlahir di muka bumi

Lingkungan

Memahami lingkungan menjadi kewajiban semua orang keseimbangan dunia tetap terjaga.

Home » Resensi Buku

Bumi dan Manusia

Submitted by syaldi on 6 May 2009 – 14:16One Comment

bumi-manusiaJudul: BUMI MANUSIA
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra
Halaman : IIX + 440

Bumi Manusia adalah jilid pertama, dari Tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer. Buku ini melingkupi masa kejadian antara tahun 1898 hingga tahun 1918, masa ini adalah masa periode Kebangkitan Nasional. Masa ini juga menjadi awal masuknya pemikiran rasio ke Indonesia atau Hindia Belanda saat itu, masa awal pertumbuhan organisasi-organisasi modern yang juga merupakan awal kelahiran demokrasi pola Revolusi Perancis.

Buku ini bercerita tentang perjalanan seorang tokoh bernama Minke. Minke adalah salah satu anak pribumi yang sekolah di STOVIA. Pada masa itu, yang dapat masuk ke sekolah STOVIA adalah orang-orang keturunan Eropa. Minke adalah seorang pribumi yang pandai, ia sangat pandai menulis. Tulisannya bisa membuat orang sampai terkagum-kagum dan dimuat di berbagai Koran Belanda pada saat itu. Sebagai seorang pribumi, ia kurang disukai oleh siswa-siswi Eropa lainnya. Minke digambarkan sebagai seorang revolusioner di buku ini. Ia berani melawan ketidakadilan yang terjadi pada bangsanya. Ia juga berani memberontak terhadap kebudayaan Jawa, yang membuatnya selalu dibawah.

Selain tokoh Minke, buku ini juga menggambarkan seorang “Nyai” yang bernama Nyai Ontosoroh. Nyai pada saat itu dianggap sebagai perempuan yang tidak memiliki norma kesusilaan karena statusnya sebagai istri simpanan. Statusnya sebagai seorang Nyai telah membuatnya sangat menderita, karena ia tidak memiliki hak asasi manusia yang sepantasnya. Tetapi, yang menariknya adalah Nyai Ontosoroh sadar akan kondisi tersebut sehingga dia berusaha keras dengan terus-menerus belajar, agar dapat diakui diakui sebagai seorang manusia. Nyai Ontosoroh berpendapat, untuk melawan penghinaan, kebodohan, kemiskinan, dan sebagainya. Hanya ada 1 jalan keluar, yaitu, Belajar, belajar dan terus belajar.

Melalui buku ini, penulis menggambarkan bagaimana keadaan pemerintahan kolonialisme belanda pada saat itu secara hidup. Pram, menunjukan betapa pentingnya belajar. Dengan belajar, kita dapat mengubah nasib kita. Seperti didalam buku ini, Nyai yang tidak bersekolah, dapat menjadi seorang guru yang hebat bagi siswa STOVIA, Minke. Bahkan pengetahuan si “nyai” itu, lebih luas dari guru-guru sekolah STOVIA tersebut. Selain itu, penulis ingin menyampaikan bahwa selain sekolah, kita juga harus belajar dari pengalaman, dari buku-buku, dan dari semua orang dimana pun kita berada. Dengan berbagai keterbatasan, seseorang bisa menjadi sukses. Oleh dari itu kita tidak boleh membuat diri kita picik dan puas diri, tetapi kita harus terus belajar.

Buku ini sempat dilarang beredar oleh jaksa agung tahun 1981dengan tuduhan mempropagandakan ajaran-ajaran Marxisme-Leninisme. Larangan Rezim Orde Baru-pemerintahan saat itu- terhadap peredaran buku ini dan karya pram yang lainnya cukup membingungkan. Larangan ini sangat kontroversi dan memuakan, di negeri-negeri kapitalis yang paling anti-komunis sekalipun pun larangan ini menjadi bahan tertawaan.

Mengapa buku “Bumi Manusia” dilarang? Apakah karena mempropagandakan ajaran Marxisme-Leninisme? Tidak! Dalam buku ini tidak disebut-sebut sedikit pun tentang ajaran-ajaran Marxisme-Leninisme atau komunisme, yang disebut hanya Nasionalisme. Rezim saat itu mungkin sangat khawatir dengan penokohan yang ditulis oleh Pram, lewat tokoh “Nyai Ontosoroh” dan “Minke” yang berpikir untuk mengubah nasib dan mendesak kita membuka wawasan kita dan terus belajar melihat dunia luar. Atau mungkin rezim saat itu takut, karena yang disetting yang digambarkan dalam bumi manusia terulang kembali pada masa orde baru? Kita semua tidak ada yang tahu pasti.

Yang pasti, dengan melarang buku ini merupakan satu usaha dari rejim untuk membodohi rakyatnya, dan tidak ingin membuat pikiran rakyat Indonesia menjadi kritis. Sama seperti pemerintahan Kolonial Belanda yang tidak ingin pribumi Indonesia dapat menjadi pintar sehingga terus-menerus dapat dijajah oleh Belanda. Semoga saja pemerintahan yang baru tidak mengikuti kesalahan-kesalahan yang sama yang dilakukan oleh para pendahulunya.

-Daud/Togog, penulis adalah pelajar kelas III SMU Gonzaga, Jakarta

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Blogplay

One Comment »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar blog.