Budaya

manusialah yang membangun kebudayaan dan sebaliknya budayalah yang membentuk manusia hingga akhir zaman

Galeri

fragmen kehidupan dituangkan dalam berbagai media yang menyatukan manusia, budaya dan lingkungan

Glossary

terminologi yang kerap digunakan di gerakan sosial, budaya dan lingkungan beserta penjelasannya

Hak Asasi Manusia

pada dasarnya, manusia memiliki hak yang sama saat terlahir di muka bumi

Lingkungan

Memahami lingkungan menjadi kewajiban semua orang keseimbangan dunia tetap terjaga.

Utama » Opini

Neda Artinya Suara

Artikel dikirim oleh Syaldi Sahude pada 25 June 2009 – 9:56 pmBelum Ada Komentar

neda-iranSejarah telah membuktikan bahwa suara perempuan tak akan mampu disunyikan meskipun suara itu terus menerus dibungkam. Perempuan Iran tak akan diam, sama persis seperti pada protes bulan Mei di tahun 1998, dimana perempuan Indonesia suaranya menggema di jalan-jalan mengusir rezim penindas, rezim Orde Baru. Apa yang terjadi di Iran akhir-akhir ini mengingatkan kembali kejadian brutal yang menimpa mahasiswa Indonesia, 11 tahun yang lalu, beberapa anak bangsa ditembak mati dengan peluru tentara karena berani bersuara.

Neda juga seorang mahasiswa yang berada di jalan dengan ayahnya mengikuti protes mahasiswa dan masyarakat yang sedang berlangsung menentang presiden Mahmoud Ahmadinejad yang disokong oleh sang ayatullah. Tiba-tiba suara tembakan terdengar dan Neda tergeletak, darah dimana-mana, ayahnya berteriak dan dalam sekejap nyawanya hilang.

Protes besar-besaran terhadap rezim Iran kali ini, diikuti oleh banyak perempuan. Istri Mousavi (penantang Ahmadinejad), Zahra Rahnaved, memang dekat dengan pergerakan perempuan selain ia juga adalah seorang dosen yang amat dikenal. Berbeda dengan para istri-istri pemimpin di Iran yang tidak terlihat di muka umum, Zahra sangat aktif ikut berkampanye dengan suaminya dan berbicara lantang di berbagai forum di universitasnya. Aba-aba untuk melakukan aksi damai di jalan juga seringkali menunggu perintah Zahra yang kemudian oleh mahasiswa dan masyarakat luas dikomunikasikan lewat twitter dan facebook.

Perempuan Iran merasa ini saatnya, sudah lama mereka menunggu kebebasan. Mereka lelah dengan keterbelakangan kaumnya. Hanya 13% perempuan Iran yang aktif di dalam dunia kerja, para ayah bisa menikahkan anak-anak perempuannya yang baru berusia 13 tahun dengan izin pengadilan, poligami dibolehkan dalam pemerintahan Ahmadinejad dan polisi lebih sering mengejar perempuan tak berjilbab ketimbang maling.

Cukup sudah perempuan Iran bersabar, kini mereka berharap bahwa perubahan akan datang. Meskipun perubahan itu harus dibayar oleh seorang nyawa perempuan yang masih amat muda usianya.

Nama perempuan itu Neda, artinya suara dalam bahasa Persia, meski ia tergolek di jalan dan matanya terbelalak tanda nafasnya telah berhenti, Neda telah memutuskan untuk bersuara. Perjuangannya tidak sia-sia.

Selamat jalan Neda, pergilah dengan senyum kemenangan.

Penulis: Gadis Arivia, pendiri Yayasan Jurnal Perempuan

Popularity: 1% [?]

Berbagi:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Tumblr
  • Twitter

Tinggalkan komentar!

Tuliskan komentar Anda atau berikan trackback dari website Anda. Anda juga dapat berlangganan komentar artikel ini melalui RSS.

Tetap pada topic. Jangan lakukan spamming.

Anda dapat menggunakan tag HTML ini:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Website ini menggunakan Gravatar. Untuk mendapatkan avatar pribadi Anda, silakan register dan upload avatar Anda di Gravatar blog.