<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Warga keturunan Tionghoa, sudahkah mendapat perlakuan adil?</title>
	<atom:link href="http://sekitarkita.com/2009/06/warga-keturunan-tionghoa-sudahkah-mendapat-perlakuan-adil/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sekitarkita.com/2009/06/warga-keturunan-tionghoa-sudahkah-mendapat-perlakuan-adil/</link>
	<description>Hak Asasi Manusia, Budaya dan Lingkungan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Dec 2011 10:42:05 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
	<item>
		<title>By: Ancilla</title>
		<link>http://sekitarkita.com/2009/06/warga-keturunan-tionghoa-sudahkah-mendapat-perlakuan-adil/#comment-131</link>
		<dc:creator>Ancilla</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 21:07:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sekitarkita.com/?p=1344#comment-131</guid>
		<description>Sebelum negara ini terbentuk, mungkin saja pertentangan antar etnis sudah terjadi. Hanya saja, mereka lebih fokus dalam usaha memperluas wilayah kekuasaan (jaman kerajaan). Namun saya sendiri kurang mafhum mengenainya.

Mengenai SKBRI, entah kenapa yang saya ketahui hanyalah diterapkan terhadap WNI yang dianggap keturunan Tionghoa. Saya sebutkan dianggap karena rasanya tidak ada dari mereka yang merasa dirinya memiliki hubungan dekat dengan RRC. Ditambah pula, populasi manusia di wilayah Indonesia (sebenarnya Asia Tenggara kalau tidak salah) terjadi karena para pelayar dari Yunan. Sehingga, bila demikian, sedikit banyak, semua dari kita memiliki &quot;keturunan Tionghoa&quot;. Sayangnya, saya lupa sumber dimana saya membaca informasi tersebut.

Akhir kata, keadilan bukanlah hal yang mudah untuk dicapai. Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan untuk &lt;i&gt;kemaruk&lt;/i&gt;. Namun, menurut saya pribadi, keadilan masih jauh dari rakyat Indonesia, terutama kaum minoritas. Jargon minoritas disini tentu dapat diartikan sangat luas.

Tambahan, sebenarnya setiap dari kita pernah mengalami betapa tidak nyamannya menjadi minoritas. Saya yakin sekali mengenai ini. Yang disayangkan adalah, mengapa ketika kita sudah tidak berada di kelompok minoritas tersebut, kita seakan lupa.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum negara ini terbentuk, mungkin saja pertentangan antar etnis sudah terjadi. Hanya saja, mereka lebih fokus dalam usaha memperluas wilayah kekuasaan (jaman kerajaan). Namun saya sendiri kurang mafhum mengenainya.</p>
<p>Mengenai SKBRI, entah kenapa yang saya ketahui hanyalah diterapkan terhadap WNI yang dianggap keturunan Tionghoa. Saya sebutkan dianggap karena rasanya tidak ada dari mereka yang merasa dirinya memiliki hubungan dekat dengan RRC. Ditambah pula, populasi manusia di wilayah Indonesia (sebenarnya Asia Tenggara kalau tidak salah) terjadi karena para pelayar dari Yunan. Sehingga, bila demikian, sedikit banyak, semua dari kita memiliki &#8220;keturunan Tionghoa&#8221;. Sayangnya, saya lupa sumber dimana saya membaca informasi tersebut.</p>
<p>Akhir kata, keadilan bukanlah hal yang mudah untuk dicapai. Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan untuk <i>kemaruk</i>. Namun, menurut saya pribadi, keadilan masih jauh dari rakyat Indonesia, terutama kaum minoritas. Jargon minoritas disini tentu dapat diartikan sangat luas.</p>
<p>Tambahan, sebenarnya setiap dari kita pernah mengalami betapa tidak nyamannya menjadi minoritas. Saya yakin sekali mengenai ini. Yang disayangkan adalah, mengapa ketika kita sudah tidak berada di kelompok minoritas tersebut, kita seakan lupa.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

