Pages Navigation Menu

Hak Asasi Manusia, Budaya dan Lingkungan

Sitor Situmorang: Tak Ada Dendam, Tak Ada Yang Disesalkan

Sitor Situmorang: Tak Ada Dendam, Tak Ada Yang Disesalkan

Genealogis, siapa sebenarnya Sitor Situmorang itu? ”Saya adalah keturunan Si Marsaitan generasi ke-12,” kata sang penyair dengan lantang. Si Marsaitan? Kalau begitu kakek-moyang Sitor adalah anak yang tidak diinginkan oleh ibunya, yang lahir dari cinta palsu, karena perempuan yang hebat itu berpura-pura cinta dan menjadi istri karena ingin membalas dendam atas kematian suami yang sungguh dia cintai. Dalam biografi yang ditulisnya, ”Sitor Situmorang Seorang Sastrawan 45 Penyair Danau Toba,” dia mengisahkan serentetan kejadian dramatis, begini rupa: Di Negeri Urat, Pulau Samosir, berbahagialah Tuan Sipallat dengan istri junjungan jiwanya, Si Boru Sangkar Sodalahi, asal klan Manurung, penguasa Pegunungan Sibisa di kaki Gunung Simanuk-manuk. Tuan Sipallat dan istrinya bermukim di Suhut ni Huta.

Namanya hidup di dunia, bukan di surga, maka suatu ketika pecahlah perang dengan tetangga. Tuan Sipallat mengajak enam saudaranya untuk bangkit menghadapi musuh. Tapi, tak seorang pun yang tergerak hatinya. Tuan Sipallat maju menggempur lawan sendirian. Ia kalah, ditawan, kepalanya dipancung, dan oleh panglima dari suku pemenang, sebagai penghinaan tiada tara, kepalanya ditanam, dijadikan alas tangga batu menuju rumahnya.

Dan, martabat klan yang kalah perang itu benar-benar terinjak-injak lagi ketika Si Boru Sangkar Sodalahi membuat geger marga membikin malu negeri. Bayankanlah, dia main mata, bercumbu-rayu, dan kawin pula dengan kepala suku yang memenggal kepala suami pujaannya. Sehari-hari pekerjaannya menenun. Dalam belaian suaminya yang baru, Si Boru Sangkar Sodalahi menenun ulos lebih rajin lagi, dan hasilnya lebih indah pula. Disuruhnyalah suami barunya itu membuatkan bahan pewarna yang lebih bermutu, yang dibuat dari ramuan alam, sehingga suaminya itu sibuk sampai malam, tanda kasihnya pada istrinya yang cantik, istri lawan yang telah dia taklukkan dengan darah. Apabila malam sudah melingkup seluruh gunung, berbaringlah sang suami di pangkuan istrinya itu, hanyut dalam elusan tangan dan bujuk-rayu Si Boru Sangkar Sodalahi.

Suatu malam, malam penghabisan, dalam belaian dan kata-kata yang menenteramkan hati, yang dibisikkan Si Boru Sangkar Sodalahi kepada sang suami, yang dengan manjanya merebahkan kepala di pangkuan si istri, maka sang suami, karena lelahnya bekerja seharian, langsung tertidur lelap dan mendengkur. Tangan Si Boru Sangkar Sodalahi membelai jakun di leher suaminya. Namun, sekali ini, bukan asmaranya yang menggelora, tapi keinginannya menuntaskan obsesi untuk melampiaskan dendam atas kematian suami pertamanya, Tuan Sipallat. Terkesiap darahnya, dia menoleh ke kiri dan ke kanan seraya diam-diam menyisipkan tangan ke bawah tikar. Dari situ dihunusnya sebilah pedang. Cahaya samar pelita terpantul di mata senjata itu. Dia menatap leher suaminya, dengan dendam yang ingin dituntaskan tentu, dan secepat kilat ditebaskannya pedang itu. Dan kepala laki-laki itu terpelating, menggelinding, dan darah bersimbah di peraduan di mana cinta kepura-puraan baru saja berlalu.

Lantas dia berdiri, mengambil kain ulos ragihidup dari peti pusaka. Bergegas dia turun ke bawah. Sambil menangis tanpa suara, dia gali tengkorak suaminya dari dasar tangga batu itu. Dibungkusnya tengkorak itu dengan ulos pusaka. Dia naik lagi ke rumah, diambilnya tikar bernoda, dengan perasaan jijik dibalutnya kepala dari musuh suaminya, dan dia berangkat menuju Suhut ni Huta, pusat marga suaminya yang pertama.

Sampai di huta itu, Si Boru Sangkar Sodalahi mengetuk gerbang huta yang tegak bagaikan benteng. Kepada penjaga dia mengatakan dia datang untuk menyerahkan sesuatu. Kedua penjaga, yang mengenalnya, kontan meninggi suaranya, mengusirnya. ”Kami tak perlu apa-apa dari kamu. Tunggu kami pada waktunya ke tempatmu, mengambil apa yang kami perlukan, kepalamu dan kepala suamimu itu!”

Si Boru Sangkar Sodalahi tidak menyerah karena ucapan yang menyakitkan itu. Niatnya tak tergoyahkan. Lalu, kepada penjaga di mengatakan dia harus bertemu dengan kepala marga dan percayalah bahwa dia tidak akan pergi sebelum diizinkan masuk. Wali adat pun dibangunkan, perundingan digelar di antara mereka. Hasilnya: Si Boru Sangkar Sodalahi diperkenankan masuk menghadap.

”Malam ini saya membawa kembali leluhurmu, kembali pulang ke rumah ini, melunasi utang batin yang tertimpa di atas kepalamu semua!” ucap Si Boru Sangkar Sodalahi mantap seraya melepas gendongan dan dengan takzim menggelar tengkorak suaminya yang pertama. ”Inilah junjungan kita, yang saya tebus kehormatannya.” Dengan syahdu katanya pula: ”Kamu jadi saksi sekarang, apakah saya pengkhianat ataukah istri yang setia sampai mati.” Pemimpin rapat adat diam bagai paku. Yang hadir hanya bisa menangis memandangi tengkorak yang tergeletak dalam kebesaran ulos.

Selang beberapa lama, dilaksanakanlah upacara adat untuk membersihkan nama perempuan yang gagah berani menerjang langit itu. Kedudukannya di dalam marga dipulihkan, dan anak yang dikandungnya dianggap sebagai ”darah daging kami sendiri, oleh karena ia adalah buah bisikan roh leluhur.” Maka, lahirlah seorang anak laki-laki, dan diberi nama Si Marsaitan, kakek-moyang Sitor Situmorang.

Unik, kuat berakar pada tradisi Batak nan purba, heroik, namun tak bebas dari godaan zaman, itulah Sitor. Ayahnya berumur 74 tahun ketika dia dilahirklan oleh istri kedua ayahnya. Sang ayah meninggal dalam usia 103 tahun. Tanggal 2 Oktober 2009 Sitor merayakan ulangtahunnya yang ke-85. Tapi, siapa tahu, mungkin dia sebenarnya sudah berusia 86. Dia memang yakin lahir 2 Oktober, tapi tahunnya meragukan, apakah 1923 atau 1924. Karena catatan yang kurang jelas di dalam buku gereja, katanya.

Sitor adalah penyair Indonesia paling produktif dibandingkan dengan sastrawan seangkatannya atau para pendahulunya. Dia telah menulis 103 puisi yang terkumpul dalam tiga antologi yang mengekalkan namanya dalam perpuisian modern Indonesia: Surat Kertas Hijau, Dalam Sajak, dan Wajah Tak Bernama. Dia melampaui ”si binatang jalang” yang dia kagumi, Chairil Anwar, yang hanya membukukan 69 puisi, Sanusi Pane 48, dan Amir Hamzah 52. Tak ada penyair yang mengembara sejauh yang telah diseret kakinya. Dari Harianboho, di lembah Pusuk Buhit, di mana manusia Batak yang pertama, menurut mitologi, diturunkan oleh Dewata, dia menginjakkan kaki di Batavia, lantas bertualang di Belanda, Perancis, Italia, Spanyol, dan bertahun-tahun kemudian menjadi ”warga dunia,” bolak-balik Jakarta-Paris-Amsterdam. Tak ada yang cukup berani membawa sikap bohemian ke dalam kehidupan keluarga sebagaimana yang telah dia tunjukkan dalam hidupnya. Berpisah dengan istri pertamanya, Tiominar Gultom, untuk kemudian merebahkan kepalanya yang sarat puisi nan romantis ke pangkuan seorang perempuan Belanda yang telah membawa aura baru ke dalam gaya hidupnya yang berbunga-bunga: Barbara Brouwer. Hubungan asmara yang sempat dilukiskan V.S. Naipaul, pemenang Nobel Sastra 2001, di dalam salah satu bukunya, hasil kunjungannya ke Indonesia, ”Among the Believers.” Keterlibatan Sitor dalam politik menyebabkannya harus mengenakan baju tahanan Orde Baru bernomor 5051. Sebagai sahabat dan pengikut Sukarno, dia mendekam dalam penjara kekuasaan Suharto yang fasistis selama delapan tahun tanpa proses pengadilan. Masih mujur, dia tak sempat dibuang ke Buru, sebagaimana temam-teman seperjuangannya yang dituduh komunis dan dicap jadi dalang pembunuhan jenderal-jenderal, hidup melata selama sepuluh tahun di pulau buangan itu. Bagaimanapun, dia sudah merasakan tepi neraka, ketika selama tiga bulan dikurung di Rumah Tahanan Militer di Jalan Budi Utomo, Jakarta Pusat. Selama seratus hari dia tak pernah melihat matahari. ”Tiga bulan terasa seperti tiga abad,” katanya lirih kepada penulis risalah ini yang bersama Dolorosa Sinaga, Chris Poerba, dan Hotman J. Lumban Gaol dari majalah TAPIAN datang bertandang ke lantai 10 Bellagio, apartemen di bilangan Kuningan, Jakarta Pusat, di mana dia dan Barbara menghabiskan waktu selama mereka berada di Indonesia.
…..

Tiba juga
saatnya aku melangkahkan
langkah pertama
(sesudah 8 tahun menunggu)
saat gerbang ke-7
dibuka
ke dunia luar
yang baru dan menyilaukan

……

Begitu dia mendendangkan perasaannya saat melangkah keluar dari bendul penjara Salemba, di mana ratusan tahanan telah menemukan ajal karena kekurangan makanan dan diserang penyakit — untuk menerima pembebasan atas kesalahannya yang tak pernah dijelaskan, pada tahun 1976.

”Saya bukan orang mistik, namun dibesarkan dalam alam yang dirasuki mistik pada masa kanak-kanak, di mana mitos dan silsilah, silsilah dan mitos adalah anak kembar impian manusia, yang sekaligus jadi pegangannya. Dunia ini adalah kata kias untuk penjara, secara kebatinan tentunya, untuk orang yang percaya akan yang gaib seperti Ayah, seperti Kakekku,” katanya.

Namun, Sitor dipenjarakan bukan karena yang gaib, tapi oleh yang nyata, tersebab pilihannya untuk bersahabat dan  memperjuangkan pandangan politik seorang nasionalis besar yang bernama Sukarno. Karena gagasan Soekarno mengenai keniscayaan bersatunya kaum nasionalis, agama, dan sosialis-komunis untuk kejayaan Indonesia, Sitor, sebagai ketua Lembaga Kebudayaan Nasional awal tahun 1960-an bekerjasama erat dengan para tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Sebagai penyair, dia bersama Rivai Apin berkunjung ke Tiongkok pada masa itu, pulang-pulang dia menulis sejumlah puisi perjalanan yang kemudian diterbitkan dengan judul ”Zaman Baru” — mengambil nama majalah terbitan Lekra yang dipimpin oleh Rivai Apin. Antologi itu berukuran sebesar buku tulis dengan kulit berwarna kuning cemerlang. Kalau dikaitkan dengan tema yang tampil dalam puisi-puisi di dalamnya, judul itu bisa pula dibaca sebagai sebuah metafora untuk melukiskan pembangunan dunia baru di Tiongkok di bawah kepemimpinan Ketua Mao. Dalam perjalanan ke Tiongkok itu Sitor tidak hanya ditemani oleh Rivai Apin dan Utuy Tatang Sontani, tetapi juga para pengarang dari Asia-Afrika. Dalam sebuah pembicaraan di Teater Utan Kayu, Sitor menceritakan, dalam perjalanan tersebut, dia tak banyak berbicara dengan Rivai Apin, orang dianggap telah ”membinanya.”

Rivai, salah seorang pelopor Angkatan 45, adalah seorang pembaca yang tekun, dengan rokok yang sambung-menyambung di jarinya, namun dia bukanlah seorang yang gemar berbicara apalagi berdiskusi mengerenyitkan jidat. Dia murah senyum, dengan lirikan matanya yang khas, sambil membuat komentar-komentar kecil yang menggelitik. Ketika penulis duduk sebagai salah seorang anggota redaksi bulanan Zaman Baru itu bersama S. Anantaguna pada tahun 1964, Pai (dia acap disapa dengan Bung Pai) mengingatkan saya, ”Kalau kurang naskah, pegang saja leher baju Sabar,” maksudnya S. Anataguna, salah seorang anggota pimpinan pusat Lekra. ”Kalau kehabisan stok vignette untuk mengisi halaman, tutup botol kecap boleh kau pakai…,” dan dia terkekeh-kekeh dengan giginya yang kuning kecoklatan disamak candu rokok.

Tentang antologi puisi perjalanan ”Zaman Baru” itu, para pengamat sastra ketika itu memberikan tinjauan dan komentar, baik yang memuji maupun mencerca serta menuduh Sitor telah terlalu jauh mencemari sastra dengan politik. Tetapi, tak sedikit yang mengenang puisinya yang berjudul ”Makan Roti Komune” sebagai puisi perjalanan berbobot politik yang hangat mempesona. Puisi itu dianggap sebagai perpaduan yang serasi antara sikap politiknya sebagai seorang nasionalis berpadu dengan pencapaian artistik dalam dua puisi paling awalnya yang monumental, ”Lagu Gadis Itali” dan ”Jalan Batu ke Danau.”

Delapan tahun dikerangkeng Orde Baru, sikap Sitor tidak berubah sebagai seorang pengikut dan pengagum Sukarno. Dalam sebuah pertemuan belum lama ini, di rumah salah seorang anaknya, dari istri pertama, di wilayah Sawangan, Jawa Barat, sedang hangat-hangatnya Sitor berbicara, salah seorang tamu yang masih muda menimpali, ”Bukankah Sukarno tidak bebas dari kesalahan?” Gesit bagaikan seorang pesilat, Sitor cepat bangkit dari tepat duduk dan meninju meja: ”Bah, kau pikir Sukarno itu malaikat?!” Bibirnya bergetar dan menatap dengan tajam anak muda yang berada di depannya seperti mau menelannya.

Sitor berdiri begitu kokoh, dan tampak lebih sehat dari lima tamu yang sedang mengeruminya. Layaknya dia belum pernah menjalani operasi jantung bypass (di Paris), di mana lima pembuluh darah jantungnya dipotong disambung-sambungkan. Hanya garis-garis yang menoreh di pojok matanya yang menunjukkan dia sudah berusia mendekati 85 tahun. Juga mata kirinya yang menjadi agak sipit dibandingkan dengan yang kanan.

”Kalau ada bukti bahwa Sukarno itu menangkap Syahrir, barulah akan saya katakan, ’Sekarang di tahun 2009 ini, Sitor Situmorang, pengikut Sukarno, akan menyerukan hapus jasa-jasa Sukarno,’” dia meletup kembali. Dengan tetap tegak, tantangnya pula: ”Apa salah Sukarno? Katakan…! Syahrir berlindung di belakang Sukarno sehingga bebas dapat berkumpul dan bertemu dengan kelompok radikal. Jepang takut menjamah Syahrir karena ada Sukarno yang melindunginya.” Sitor mentah-mentah menolak sang pemimpin pujaannya, Putra Sang Fajar, sebagai seorang kolaborator Jepang.

Ketika salah seorang tamunya berusaha untuk menenangkan suasana percakapan yang memanas ketika itu, dan bertanya apakah dia, dalam usia selanjut seperti sekarang, masih menenggak bir kesukaannya, dengan ligat sambil senyum malu-malu dia menjawab: ”Ah, itu harus…” dan dia tertawa terkekeh. ”Ai berapa botol kau punya?” tantangnya pula. Giginya masih kuat menyantap makanan yang dinikmati anak-anak muda yang menjadi tamunya. Bedanya, dia harus menelan pil penjaga kestabilan kadar gula di dalam darahnya sebelum duduk di kursi meja makan.

Ketika ditanya, apa rahasianya bisa bertahan hidup dengan usia yang panjang dan relatif sehat, dia menjawab: ”DNA menentukan.” Sitor bersaudara sembilan orang. Ayahnya, yang berjuang melawan Belanda bersama Raja Sisingamangaraja XII, adalah manusia fenomenal. Seperti manusia yang tidak bisa-bisa mati-mati. Setiap kali merasa ajal sudah mendekat, sang ayah memanggil putra-putranya. Sitor dan saudara-saudaranya secara bersama-sama datang menyampaikan persembahan dan sungkem di hadapan sang ayah. Upacara seperti itu sudah lima kali dilakukan sebelumnya, sejak 1950-1962, ”… Ayah setiap kali merasa sudah dekat ajalnya. Tapi ternyata ia hidup terus.”

Menurut Sitor dalam biografinya, tahun 1963, ketika ayahnya sudah bertahun-tahun sakit, sang ayah menyimpulkan ”Tak akan mati sebelum putra kelimanya, yaitu saya (Sitor) ikut hadir. Saya disuruh jemput dari Jakarta oleh utusan dan dengan titipan ongkos untuk pesawat terbang. Beberapa bulan kemudian, setelah upacara itu, ia pun meninggal, tanpa saya hadir.”

Sitor Situmorang juga menulis cerita pendek, walau tak sampai sepuluh. Dia tak pernah memberi isyarat bahwa dia pernah bercerita secara khusus tentang ayahnya itu. Kecuali ketika dia berkisah dengan syahdu tentang kematian ibunya dalam cerita pendek ”Ibu Pergi ke Sorga.” Di situ, sang ayah muncul sebagai pemeran pembantu. Setelah sang ibu dimakamkan dalam sebuah upacara, begitulah Sitor becerita, ”Ia (ayah) berdiri di pekarangan luas dan memberi isyarat kepadaku untuk mengikutinya ke sudut pekarangan. Tak tahu aku maksudnya. Setelah aku dekat ia berkata: ’Kau ada uang?’

Aku terkejut, karena tak tahu maksud apa yang terkandung dalam pertanyaannya, tapi akhirnya kubilang: ’Berapa Pak perlu?’

”Seribu, dua ribu sudah cukup,” katanya.

”Buat apa?” tanyaku sambil mengikuti dia, dan pada ketika itu kami sampai di sudut pekarangan. Ia memegang bahuku dan sambil memandang ke danau di bawah ia berkata: ’Di sini aku ingin dikubur. Kau harus membuat kuburan semen yang indah buat aku, kalau aku sudah mati, ibumu kau pindahkan ke mari.’

Aku hanya bertanya: ’Mengapa mesti di sini?’

Bapak melepas tangan kirinya dari bahuku. Ia berpaling memandang ke puncak gunung dan berkata: ’Dari tempat ini aku dapat memandang lepas ke daratan tinggi dan ke danau.’

Aku diam…”

Sitor diam terpesona dibuai ayahnya, sementara imajinasi pembaca dibuatnya sesak dengan seribu fantasi tentang kematian yang tak pernah datang ketika memandang indahnya Danau Toba di bawah sana.

Ketika ditanya apakah pernah menyesal dalam hidup, mungkin karena ada yang belum bisa diselesaikan, atau ada yang tak pantas dikerjakan, Sitor menjawab: ”Soal apa yang saya kerjakan tidak ada, baik sebagai pengarang, baik sebagai manusia biasa, baik sebagai kepala keluarga. Tak ada yang perlu saya sesalkan. Pilihan politik saya pun tidak ada yang saya sesalkan.”

Bagaimana Bung ingin dikenang dalam sejarah?

”Saya tidak melihat seperti itu. Kalau saya bekerja, bukan ingin dikenang. Apa yang saya kerjakan itu yang harus dikenang orang. Bukan Sitor. Saya bisa dijelaskan dari karya-karaya saya, bukan dari dongeng-dongeng atas nama Sitor Situmorang. Pandanglah saya dari karya, apa yang telah saya sumbangkan.”

Apakah puncak yang telah Bung capai?

“Tak ada. Belum ada. Mudah-mudahan masih ada. Tapi, kalau pun tidak ada, tidak apa-apa.”

Di antara sekian banyak puisi yang telah ditulis, yang mana yang Bung anggap paling berhasil?
”Tidak ada. Sebab tema puisi saya berbagai macam. Yang satu dengan yang lainnya berbeda.”

Pertengahan Agustus 2009, menjelang tengah hari, saya datang menjemputnya di apartemennya untuk kemudian menemaninya ke Buddhabar, di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, di mana akan berlangsung bedah buku ”Pesta Obama di Bali,” novel Nurinwa Ki S. Hendrowinoto dan Sitor jadi pembicara di samping Profesor Jakob Sumardjo, sementara saya sebagai moderator. Mantan Presiden Megawati Sukarnoputri yang akan membuka diskusi tersebut. Seraya menunggunya mandi, saya melihat-lihat lukisan dan ornamen-ornamen yang dipajang di dinding. Sekelebat, tak sempat mengeluarkan kamera dari tas, Sitor menyeberang dalam keadaan telanjang bulat dari kamarmandi ke kamartidurnya. Telanjang bulat!! Cepat bagai kilat, saya teringat gosip yang beredar, termasuk dari Pramoedya, bahwa ketika di dalam penjara, kalau mandi, Sitor duduk menjongkok dalam keadaan telanjang bersama tahanan lain, dan yang jijak di lantai tidak hanya kedua kakinya, tetapi juga sejemput daging yang teramat peka juga ikut membelai lantai. Keluar dari kamar, dia menemui saya dengan dada terbuka, cuma pakai celana pendek: ”Tunggu, aku mau bersolek dulu.”

Saya mencari taxi, dia saya suruh menunggu di depan lobby apartemen. Sementara mencari-cari taxi, saya menoleh ke belakang. Sitor berdiri dengan gayanya, seperti bertumpu pada tongkatnya. Dia mengenakan batik yang redup, tas kecil tergantung di sisinya. Sepatunya Lacoste. Di atas kepalanya membentang gagah nama apartemen: Bellagio. Pemandangan yang unik. Aku seperti melihat Sitor turun dari bukit yang sepi menuju lembah dan tiba-tiba berdiri di depan bangunan yang tak seribu tahun lagi akan dibangun di Pusuk Buhit. Jauh lebih unik dari selembar foto yang pernah ditunjukkannya kepada saya, di mana Sitor muda, dengan janggut tipis, sedang berdiri di persimpangan jalan menuju Granada, Spanyol.

Dalam pidato menandai dibukanya diskusi buku tersebut, Mega memuja Sitor Situmorang sebagai sastrawan besar, dan bahwa dia adalah teman Bapaknya. Dan dia menyatakan keinginan agar suatu ketika, kalau sudah terkumpul, agar karya Sitor juga dibicarakan di gelanggang yang cukup mewah itu. Lantas Mega meninggalkan ruangan. Selepas Jakob Sumardjo, saya persilahkan Sitor untuk memberikan pemaparaannya. Mikropon saya dekatkan ke dagunya. Ketika baru mau memulai, sekitar dua meter di depan, di antara hadirin, pengarang K. Usman berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya. Sitor rupanya merasa tidak dihormati dengan tingkah-laku seperti itu. ”Saya tidak suka begini, yang bicara tidak didengar. Kalau tidak mau dengar keluar saja. Atau saya saja yang keluar,” katanya sambil berdiri dan menyambar tongkatnya hendak pergi. Hadirin tegang. Cepat saya memeluk pinggangnya, memohon, ”Husomba, Amang [Kusembah Bapak], jangan pergi, malu kita…” Dia menghentak: ”Tidak, tidak…” tapi pelukan saya tetap di pinggangnya sampai dia duduk kembali. K. Usman yang rupanya merasa bersalah, maju ke depan, meminta maaf, tapi ditolak Sitor. ”Apa? Tidak!” sergahnya.

Kulirik dengan pojok mata, amuk hati Sitor sudah reda kembali, walau amarah masih membayang di pelupuk matanya. Dia menyampaikan pandangannya yang agak kritis terhadap novel tersebut, dan bahwa ”Apa yang saya harapkan, tidak muncul di sini.” Kemudian, saya mempersilakan hadirin memberikan tanggapan. Satu-dua orang maju. Mengutarakan pendapat. Diskusi lumayan hidup. Tiba-tiba seseorang meletakkan secarik kertas di depan saya, isinya agar acara dihentikan sejenak, ”Ada yang ingin disampaikan.” Salah seorang dari panitia membacakan surat masuk yang isinya Megawati ingin menyampaikan sumbangan untuk dana pengumpulan karya Sitor Situmorang. Sang penyair diminta maju ke depan untuk menerima amplop dari panitia. Kulihat dengan cukup bergairah amplop itu. Cukup tebal, saya kira lembaran seratus ribu rupiah sebanyak 200 lembar. Di bawah derai tepuktangan hadirin, sang penyair menerima amplop Mega yang diserahkan salah seorang sponsor pertemuan.

Ketika Sitor sudah duduk kembali di sampingku, cepat saya renggut mike dan saya katakan: ”Untung Bung tak jadi pergi. Kalau tadi Bung pergi, ke mana uang sebanyak itu kita cari…” Hadirin gerrr… Sitor terkekeh dan memukul-mukulkan amplop tebal itu ke bahu saya, menahan geli.

Tak sekali dua-kali dia memukul bahu saya kalau sedang hangat-hangatnya pembicaraan. Terkadang dia melompat dari kursi memegangi bahu, dan membacakan sebaris-dua-baris dari sajaknya. Suatu hari, Dolo, Chris, Hotman, dan saya datang mewawancarainya. Karena sofanya tak memadai, kami pun duduk di lantai. Sitor duduk di sofa bagaikan baginda raja. Pantas dia duduk di situ, karena dia memang raja klan Situmorang yang terakhir dan penyair dunia pula. Saya tanyakan, apakah dia tak punya dendam terhadap Suharto yang telah menistakan hidupnya selama delapan tahun?

Dia diam, berdiri dengan mulut terkatup rapat, gigi digigit-gigit, tulang pelipis menjentang, dipungutnya tumpukan buku di atas meja tamu persis di depannya, dan … dibantingkannya kembali tepat di depan hidungku. Karena sudah mengenalnya, dan sudah terbiasa dengan temperamen Batak, saya membalas dengan sesungging senyum. ”Saya tak punya dendam. Dia itu kecil.” Maksudnya, Suharto tiada bandingannya dengan penghormatan yang telah dia terima dari masyarakat semarganya di Tanah Batak. Dan berderailah cerita dari bibirnya bagaimana dia telah menjadi orang paling terhormat di kampungnya, tak lama setelah dia keluar dari penjara, dihormati dalam sebuah acara yang disebut mangongkal holi [memindahkan tulang-belulang nenek-moyang]. Yang terakhir mendapat penghormatan seperti itu adalah keturunan kedelapan sebelum Sitor.

Mitologi Batak merasuk ke dalam hati Sitor sebagai peristiwa sastra, acara-acara adat yang sarat dengan arti dan penuh irama memperkaya bakat alamnya. Suatu ketika, dia pernah bilang, kalau berada jauh di daratan Eropa, supaya jiwa tetap berada dalam pelukan tanah kelahiran maupun dalam kata-kata dan irama bahasa, dia tak lupa membawa kumpulan sajak Hamzah Fansyuri ”untuk dibaca-baca.”

Sitor sempat beberapa tahun mengajar Bahasa Indonesia di Belanda. Agaknya, Sitor bukanlah Batak komplit, yang haus akan hamoraon, kekayaan benda sebagai salah satu tujuan hidup. Dia cuma kaya dalam kata-kata, makmur dengan puisi-puisinya. Kekayaan yang tak mati-mati, tentu. Dia mengaku “tak bisa mencari uang” di luar menulis, mengajar, dan berbicara mengenai kebudayaan dalam berbagai pertemuan. Di Belanda, Perancis, dan Jerman dia kerap diundang sebagai “duta besar Tanah Batak,” dan diminta ceramah mengenai tanah tumpah darahnya sebagai orang dalam. Sebagaimana yang tercermin dalam bukunya, “Toba Na Sae,” sikapnya selalu beranjak dari pandangan dan pengamatannya sendiri. Dia tidak terpengaruh, malah mengkritik para peneliti Barat. Contohnya, kesimpulan Barat yang mengatakan orang Batak suka berperang hanya setelah mengamati huta di Tanah Batak yang selalu dikelilingi batu-bartu besar serupa benteng penghadang musuh. “Kalau berperang dan berkelahi setiap hari bagaimana orang Batak bisa hidup sampai sekarang!” sanggahnya enteng.

Dia menjelaskan batu yang mengelilingi setiap hutan, yang kelihatan mirip benteng itu, muncul karena upaya untuk memperluas areal tanah persawahan. Batu-batu itu disingkirkan dan ditumpuk agar bisa dikerjakan lahannya. Proses penyingkiran bebatuan itu berjalan sejak peradaban Batak berkembang.

Sitor berniat untuk berada di Indonesia sampai Oktober tahun ini, untuk merayakan ulangtahunnya yang ke-85 di sini. Niat itu kesampaian juga. Karena istrinya, boru Belanda, Barbara Brouwer, yang telah menyandang boru Purba, bekerja selama setengah tahun mengelola Erasmus Huis, sayap kebudayaan dari Kedutaan Besar Kerajaan Belana untuk Indonesia. Barbara menjadi koordinator kegiatan seni dan budaya di situ.

Dalam usia tuanya, dia selalu membawa tongkat. Tetapi, tongkat itu kelihatan lebih banyak berperan sebagai ornamen belaka, karena kalau akan menaiki atau menuruni tangga, dia dengan tangkas menepis tangan siapa pun yang ingin memapahnya. Dia selalu ingin berdiri tegak di atas kakinya. Melihat dia berdiri, dengan mata menatap ke depan, maka saya seperti membaca sebuah buku besar yang ditulis dengan kata-kata sederhana tapi dengan simpul yang terang. Bahwa yang menulis sejarah bangsa saya adalah para korban kebengisan rezim bangsanya sendiri. Seperti si tua yang berdiri depan saya ini. Beratus ribu mereka, mungkin berbilang juta, dan saya lihat mereka di mata Sitor, juga di lututnya ketika dia kelur dari kamarnya menyambut saya. Dia, sebagaimana kata temannya, Pramoedya, toh ”tidak gepeng” dihantam palu godam dan popor Orde Baru. Merekalah yang menulis sejarah sejati bukan para penindasnya…

Penulis: Martin Aleida

Sumber: Diambil dari milis Panyingkul

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>