Utama » Lingkungan, Pembangunan

Pemenuhan Program Millenium Development Goals (MDG’S); sebagai usaha Penyelamatan Sumber Daya Air

Artikel dikirim oleh pada 22 March 2012 – 22:54Belum Ada Komentar | 86 views

Beberapa tahun belakangan, pemerintah Indonesia mengkampanyekan pencapaian program Millenium Development Goals atau disingkat MGSs. Bahkan salah satu televisi swasta di Indonesia, menyatakan diri sebagai media resmi dari program MDGs. Sebetulnya apa itu MDGs?

Pada September 2000, para pemimpin dunia dari negara maju dan berkembang bertemu dan berkomitmen untuk memenuhi 8 hal didalam pembangunan negaranya masing-masing. Ke delapan tujuan itulah yang sering disebut sebagai Millenium Development Goals (MDG’S). Ke delapan hal tersebut yaitu :

  1. Penghapusan Kemiskinan dan Kelaparan
  2. Pemenuhan Pendidikan Dasar
  3. Keadilan Gender dan Pemberdayaan Perempuan
  4. Pengurangan Angka Kematian Ibu yang melahirkan
  5. Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak
  6. Pengurangan penyakit HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya
  7. Keseimbangan Lingkungan Hidup
  8. Kerjasama Global untuk Pembangunan

Komitmen yang terjadi tersebut didasari oleh kenyatan antara lain :

  • Pada tahun 1990, lebih dari ½ populasi penduduk di dunia mempunyai pendapatan kurang dari 1 dollar/hari.
  • Pada tahun 2000, lebih dari 40% pekerja yang berusia dibawah 15 tahun (pekerja anak).
  • Tahun 2000, sekitar 1.2 milyar penduduk di dunia kekurangan akses terhadap air bersih, 40% berada di Asia Timur dan Pasific dan 25% berada di Afrika, terutama daerah Padang Sahara.
  • Tingginya angka kematian bayi yang dilahirkan di beberapa Negara pada tahun 1990 seperti Sierra Leone yaitu 316 kematian dari 1.000 kelahiran, Nigeria yaitu 265 kematian dari 1.000 kelahiran dan Angola yaitu 260 kematian dari 1.000 kelahiran.
  • Sebanyak 42 juta penduduk di dunia mengidap penyakit HIV/AIDS pada tahun 1990.
  • Pada tahun 1998, di Afika Selatan, sebanyak 21% perempuan hamil berusia dibawah 20 tahun dinyatakan HIV Positif. Dan sebanyak 42% Pekerja Seks Komersial (PSK) di Kamboja terinfeksi HIV.
  • Tahun 1999, penduduk miskin bertambah jumlahnya menjadi 97 juta dari 31 juta di tahun 1990 di wilayah Eropa dan Asia Tengah. Sedangkan di wilayah Asia Timur dan Pasifik, terdapat 897 juta penduduk miskin.
  • Penduduk di kota-kota besar dunia mengalami kenaikan menjadi 2,9 milyar sejak tahun 1980.
  • Selama tahun 1990 sampai 2000, terdapat 13.124 ha hutan di Indonesia hilang, dan terdapat 22.264 ha hutan hilang di Brazil serta 9.589 ha hutan yang hilang di Sudan.
  • Banyaknya bantuan dari Negara-negara maju ke Negara berkembang yaitu sebanyak 58 milyar dollar pada tahun 1990.1

Dari data-data yang dikumpulkan di berbagai dunia tersebutlah, pada pertemuan pemimpin negara maju dan berkembang melihat, bahwa program yang disepakati bersama demi kesejahteraan manusia sangatlah penting. Bukan hanya pemenuhan kesejahteraan manusia tapi sekaligus juga pemenuhan Hak setiap warganegara nya.

Salah satu poin yang harus dipenuhi pemerintah dalam program MDGs yaitu keseimbangan lingkungan hidup. Lingkungan hidup yang dimaksud yaitu mencakup sumber daya alam (air, mineral, bahan tambang, ikan dsb), pengelolaan dan perlindungannya (konservasi). Adanya kerusakan alam yang terjadi, baik disebabkan oleh ulah manusia maupun bencana alam, di tambah dengan perubahan iklim secara global, menyebabkan mutu dan jumlah sumber daya alam semakin berkurang.

Sumber daya alam yang mengalami krisis dikarenakan kerusakan lingkungan salah satunya yaitu air. Pada tahun 2008, beberapa sebagian besar sumber air di Indonesia, terutama pulau Jawa, sudah mengalami penurunan jumlah air, sehingga berakibat pada pasokan sumber air untuk pertanian dan pembangkit tenaga listrik. Seperti di daerah Jawa Barat, krisis air paling banyak terjadi di kawasan Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Berita Republika, 2 Januari 2008). Kemudian sebanyak 64 dari total 470 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang ada di Indonesia, dalam kondisi kekeringan, dan paling banyak berada di Jawa.2

Pulau Jawa sebagai pulau dengan penduduk yang terpadat, berdampak pada adanya pengelolaan sumber daya air yang sering melebihi kemampuan sumber daya air tersebut. Rusaknya daya dukung sumber air tersebut dikarenakan adanya pencemaran air dan kerusakan lingkungan tempat sumber air. Pencemaran air misalnya berasal dari sampah penduduk atau limbah dari pabrik, perkantoran dan pemukiman. Sedangkan kerusakan lingkungan tempat sumber air disebabkan misalnya oleh pembangunan pabrik, perkantoran dan pemukiman serta privatisasi air. Dari berita televisi, diketahui bahwa sampah yang ada di Teluk Jakarta ternyata 15% berasal dari sampah yang dikeluarkan penduduk Jakarta. Dan setiap hari sampah yang dihasilkan penduduk Jakarta rata-rata adalah 100.000 ton/hari. Jadi, bisa di bayangkan berapa sampah yang ada di Teluk Jakarta setiap harinya.

Limbah dari pabrik, perkantoran dan pemukiman juga cukup menyumbang pencemaran besar pada sumber air terutama sungai. Misalnya kebanyakan dari pabrik di Indonesia, belum memiliki sistem pengolahan limbah pabriknya, sehingga mereka membuang limbahnya ke sungai. Seperti sungai-sungai di Jakarta, rata-rata berwarna coklat kelam, bahkan menghitam, akibat banyaknya limbah-limbah yang di buang secara langsung ke sungai-sungai, tanpa melalui proses penyaringan atau pengolahan.

Pembangunan yang terus menerus di kota besar seperti Jakarta, Tangerang, Bekasi dan Bogor, membuat daya dukung lingkungan terus berkurang. Bumi tempat tinggal kita dengan sumber-sumber alamnya, tidak akan membesar, tapi manusia terus saja bertambah, membangun apapun dan mengelola alam secara besar-besaran, termasuk sumber air. Akhirnya air bersih pun sulit didapat. Kemudian, beberapa sumber air yang ada, di kelola oleh pihak swasta dan didapatkan oleh masyarakat secara membayar. Akhirnya hanya masyarakat mampu membayar yang dapat mengakses air bersih secara mudah.

Padahal dalam Undang-Undang Pengelolaan Sumber Daya Air pasal 5 dikatakan bahwa “Negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna memnuhi kehidupannya yang sehat, bersih dan produktif.”

Adanya program pencapaian MGDs pada tahun 2015 untuk keseimbangan lingkungan hidup, seharusnya bisa memperbaiki kerusakan alam yang telah terjadi, terutama untuk keberlangsungan kehidupan manusia. Namun sejauh ini, kelihatannya, program tersebut hanya dilihat sebagai proyek beberapa tahun. Padahal upaya pemulihan kerusakan alam harus secara terus menerus, dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Seperti kasus yang terjadi di kota Jakarta dan Bogor, di pinggir sungai, kita bisa melihat papan peringatan untuk tidak membuang sampah ke sungai. Tapi, kita masih bisa melihat banyak orang yang membuang sampah dan limbah ke sungai. Hal tersebut terjadi dikarenakan tidak adanya tempat pembuangan sampah atau pengolahan limbah untuk daerah tersebut. Atau kalaupun ada, tidak ada petugas pembuangan sampah dan petugas pengolahan limbah yang secara teratur bekerja.

Yang terpenting yaitu upaya konservasi sumber daya air baik mata air maupun sungai, tidak akan tercapai, apabila kita sendiri belum memiliki kepedulian bahwa air, terutama air bersih sangat penting untuk kehidupan. Bahwa air akan digunakan bukan hanya generasi sekarang, tapi juga oleh generasi mendatang. Karena itu, seharusnya kita menjaga sumber daya air yang ada di lingkungan kita. Adanya kepedulian dan rasa keberpihakan pada keberlangsungan hidup, seharusnya bukan hanya datang dari masyarakat, tapi juga pejabat pemerintah daerah. Sehingga kebijakan yang muncul untuk memenuhi pencapaian MDGs bisa terintegrasi dengan kebutuhan dan kemampuan rakyat.

Misalnya untuk program sungai bersih, pemerintah juga harus menyiapkan bagaimana pengolahan sampah dan limbah dari pabrik, perkantoran dan pemukiman. Kemudian pemerintah juga seharusnya meminimalisasi penguasaan sumber air bersih oleh pihak swasta, agar masyarakat dari semua kalangan bisa mengakses sumber air. Tanpa air, hidup kita akan terancam, dan dengan menggunakan air yang kotor dan tidak sehat, kehidupan kita juga terancam, artinya hak kita untuk hidup pun terancam.

  1. Sumber : UNDP dan World Bank Atlas 2001 []
  2. www.walhi.or.id []

Artikel terkait:

  1. Pengelolaan Sumber Daya Alam berbasis Masyarakat Lokal, Sebuah Impian Semu?
  2. Fenomena Air Bersih
  3. Buitenzorg, masihkah menjadi kota yang nyaman?
Tags: , ,

Tinggalkan komentar!

Tuliskan komentar Anda atau berikan trackback dari website Anda. Anda juga dapat berlangganan komentar artikel ini melalui RSS.

Tetap pada topic. Jangan lakukan spamming.

Anda dapat menggunakan tag HTML ini:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Website ini menggunakan Gravatar. Untuk mendapatkan avatar pribadi Anda, silakan register dan upload avatar Anda di Gravatar.